Kamis, 06 September 2018

Pengalaman Explore Budaya Indonesia, Dari Danau Toba, Pantai Losari, Puncak Bogor, Borobudur, Hingga Tebing Breksi

Negeri Indah Kepingan Surga, Negeri yang sangat sarat dengan keindahan alam yg harus dikunjungi


Pernahkah anda mendengar jargon “Negeri Indah Kepingan Surga”? ya, jargon itu disematkan untuk melukiskan bagaimana indahnya Danau Toba, danau hasil letusan gunung berapi ratusan tahun yang lalu. Danau tekto-vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer, lebar 30 kilometer membentang luas, sehingga layak mendapatkan predikat danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Terletak di Provinsi Sumatera Utara telah ditetapkan oleh Presiden Jokowi menjadi Destinasi Wisata dengan keindahan, kekayaan alam, hingga Wisata Kuliner yang tidak diragukan lagi untuk mendatangkan devisa dari pengunjung lokal maupun mancanegara.
Selain Destinasi Wisata yang membuat kita berdecak kagum akan keindahan danau terbesar kedua di dunia setelah Danau Victoria, Afrika Selatan ini, pastinya juga kita akan disuguhkan dengan aneka ragam Wisata Kuliner yang bakal membuat lidah bergetar dan tidak bosan alias pengen lagi dan lagi untuk singgah dan menyantapnya.
Disamping kuliner-kuliner rasa khas dengan bumbu andaliman yang sudah kesohor itu, iklim tropis basah dengan suhu berkisar antara 170C – 290C dan rata-rata kelembaban udara 85.04%, membuat daerah kawasan sekitar Danau Toba dikenal daerah hujan, bahkan mengakibatkan cuaca tidak menentu.
Saya sebagai penghuni lokal dari masyarakat bermukim di sekitar Danau Toba sering merasakan bagaimana tidak menentunya cuaca di sekitaran kami, kadang hujan satu harian penuh, terkadang panas menyengat, belum lagi topografinya yang berbukit dan bergelombang sehingga saat perjalanan dari Medan ke Danau Toba lewat jalur darat sering membuat para pengunjung baik lokal maupun mancanegara sering mengalami pusing, mual, sakit kepala, hingga demam dan bersin-bersin.
Nah, untuk mengantisipasi hal tersebut, maka sering disarankan untuk menyediakan dan minum obat Mixagrip demi menyehatkan badan kita maupun anggota keluarga lainnya saat beraktifitas dan saat berkunjung ke tempat-tempat wisata yang ada di sekitar Danau Toba.
Contoh sederhana, ketika perjalanan dari Medan menuju Pulau Samosir, tempat kampung mertua, dimana perjalanan darat cukup melelahkan naik bus atau mobil pribadi. Belum lagi pergantian cuaca, dari cuaca panas ala kota Medan akan berganti ke cuaca dingin menyengat di malam hari maupun di pagi hari ala pulau Samosir yang terkenal cuaca dinginnya itu.
Maka terkadang, pergantian cuaca ini mengakibatkan tubuh kita, terutama anak-anak sering mengalami gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat, dan bersin-bersin. Maka pilihan keluarga kami pastinya Mixagrip, kenapa?
Karena: (1) Mixagrip mengandung paracetamol (obat yang memiliki aktivitas seperti analgetik – pereda rasa nyeri dan antipiretik – penurun demam). (2) Mampu menurunkan demam dan batuk secepatnya serta sudah cocok dengan keluarga. 

Makassar Juga Punya Keindahan alam dan BUdaya yang tidak bisa dilewatkan untuk dikunjungi
Sehingga aktifitas keluarga tidak terganggu dengan secepatnya mengkonsumsi Mixagrip, obat sehat keluarga. Tentunya sesuai dengan dosis dan takaran sewajarnya.

Saya juga pernah keliling ke Pantai Losari di Makassar akhir tahun 2015 yang lalu. Saat itu saya menjadi salah satu utusan dari Sumatera Utara untuk mengikuti pelatihan di Makassar. Nah, di akhir dari pertemuan selama tiga hari tersebut, saya bersama teman dari Tebing Tinggi berkesempatan untuk mengunjungi Pantai Losari.
Pada malam itu terasa badan pegal-pegal karena selama pelatihan, aktifitas mengerjakan segala tugas mengharuskan kita lembur. Nah, disaat badan meriang-meriang, gejala mau flu? Maka solusinya minum Mixagrip, maka jalan-jalan ke Pantai Losari akhirnya terwujud juga tanpa mengalami demam maupun batuk.
Pun di tahun ini ketika saya berkesempatan kembali mengunjungi kota Bogor, setelah tahun lalu di bulan September sudah berkunjung ke kota ini mengikuti Diklat HaKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Bulan April yang lalu kembali saya mengikuti Diklat bagi Inovasi Pembelajaran Pemula di Hotel Onih, Bogor. Untuk kedua kalinya saya berkesempatan kembali ke kota berjuluk kota Hujan, dan kebetulan hotel tempat kami menginap dan diklat sangat dekat dengan Istana Bogor.
“wow, beruntung sekali, it’s amazing!”, gumam saya setelah tau kalau lima ratus meter dari hotel ini ada Istana Presiden Republik Indonesia, Istana Bogor!
Maka hari pertama, saya langsung turun untuk lari-lari pagi di trotoar panjang batas antara Kebun Raya Bogor, dan Istana Bogor. Saya tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat rusa-rusa berkeliaran dan mencari rumput.
Pantai Losari, kenangan indah di pantai ini berkat mixagrip saya mampu bertahan untuk menikmati pemandangan indah

Hari terakhir diklat, setelah penutupan kami berkesempatan masuk ke Kebun Raya Bogor. Nah, sebelum kami jalan-jalan saya menyempatkan diri untuk minum pil Mixagrip, kenapa? Untuk menjaga ketahanan tubuh dan untuk menjaga kesehatan selama perjalanan mengitari Kebun Raya Bogor dan juga Istana Presiden, siapa tau diberikan izin untuk masuk dan bertemu Presiden?
Walau tidak diberikan izin masuk, melihat istana dari luar rasanya sudah cukup untuk bertualang dan membawa kenangan indah di Istana Bogor maupun Kebun Raya Bogor yang menyimpan banyak objek wisata peninggalan Belanda, Jepang, maupun perjalanan panjang Kebun Raya Bogor hingga kini.
Selama bertualang saya teringat dengan masa kecil saya, masa indah ketika mendengarkan legenda-legenda Indonesia yang disiarkan lewat siaran Radio, dimana waktu itu, di tahun 90-an terkenal dengan sandiwara-sandiwara Radio, seperti:
Misteri Gunung Merapi, Tutur Tinular, Mak Lampir, Cerita Nyi Loro Kidul, dan masih banyak lagi cerita sandiwara Radio yang mengingatkan saya akan cerita dari Tanah Jawa yang melegenda itu. Sepertinya saya merasakan dan dekat dengan alam dalam cerita tersebut di tengah-tengah Kebun Raya Bogor.
Saya juga teringat kembali dengan iklan sponsor Sandiwara Radio tersebut, produk iklan tersebut adalah Mixagrip yang diproduksi oleh Kalbe Farma.
“Sakit Kepala? Mixagrip aja!”, kata-kata iklan itu tergiang kembali.
“mixagrip? Cocok!”, begitulah bunyinya.
Tidak dapat dipungkiri, iklan Mixagrip ini telah mampu mengubah pola pikir masyarakat tanah air untuk menggunakan produk obat dalam negeri ini untuk menjaga kesehatan, terutama dari ancaman demam, batuk, hingga flu yang mengancam, karena sangat berkhasiat tinggi serta minim dari efek samping apabila dikonsumsi sesuai dengan aturan pada pemakaian.

Semua kuliner-kuliner yang ada di seputaran daerah yang mendiami Danau Toba sangatlah enak dan memiliki ciri khas sendiri yang mampu membuat para wisatawan lokal maupun mancanegara ‘ketagihan’ untuk mencicipinya kembali. Tidak percaya? Mari datang ke Danau Toba untuk membuktikannya sendiri. Wisata Kuliner andalan setiap daerah sangatlah berbeda-beda, tetapi untuk masyarakat Sumatera Utara, khususnya masyarakat Batak Toba, untuk kuliner yang satu ini tidak asing lagi, apa itu? Langsung saja, ini dia yang akan kita kulik bersama, Nasi Pollong (Nasi Kuning) dan Manuk Na Pinadar!
Wow, dari namanya saja sudah sangat unik, Nasi Kuning misalnya, nyaris di setiap darah di tanah air, nasi berwarna kuning ini ada dalam setiap kulinernya, tetapi namanya pasti berbeda-beda dan cara penyajiannya, bahan pembuatannya yang mungkin berbeda.
Nasi “Pollong” atau “Pelleng” adalah Nasi Kuning khas dari daerah Pakpak Barat yang diracik dengan bumbu-bumbu khas Batak. Daerah Pakpak Barat adalah daerah di sekitar Danau Toba, di kaki pegunungan Bukit Barisan yang merupakan daerah pemekaran baru dari Kabupaten Dairi.
Konon ceritanya, nasi kuning ini disediakan oleh nenek moyang para pejuang dari tanah Pakpak Barat untuk memberangkatkan para pejuang Kemerdekaan agar berani di medan perjuangan, agar selamat dan pulang membawa kemenangan.
Jadi, hingga sekarang, masyarakat Pakpak Barat, tidak hanya etnis Pakpak, tetapi semua suku Batak menjaga tradisi masakan Nasi Pollong atau Pelleng atau lebih kerennya Nasi Kuning ini.
Hidangan kuliner kedua yang tidak kalah menariknya, tentunya Manuk Napinadar. Manuk Na Pinadar, berasal dari dua kata, yaitu Manuk dan Napinadar. Manuk (bahasa Batak), artinya Ayam Kampung, sedangkan Napinadar, artinya yang dibakar atau dipanggang dengan dilumuri bumbu khas yang telah disiapkan sebelumnya.
Dari dulu hingga sekarang, kedua masakan ini tidak bisa dilepaskan satu sama lain, artinya jika ingin membuat Nasi Kuning, harus ada Manuk Na Pinadarnya. Tetapi jika hanya mau membuat Manuk Na Pinadar, ya sah-sah saja tidak usah pakai Nasi Kuning, karena Nasi Kuning-nya mengandung makna filosofi yang kuat, memohon berkat kepada orangtua agar sukses di perantauan, sukses dalam studi dan sukses dalam perbuatan-perbuatan yang berlandaskan kebenaran dan kesuksesan.
Sehingga ada keyakinan dalam masyarakat Batak Toba yang masih percaya akan filosofi kuat yang ditelurkan oleh nenek moyang kita bahwa dengan makan bersama Nasi Pollong atau Pelleng dan Manuk Na Pinadar, diharapkan Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan, memberikan semangat dan bisa menjalani sepanjang tahun dengan penuh kemenangan.
Manuk Na Pinadar dan Nasi Pollong ini bisa kita jumpai saat kita melakukan traveling di sepanjang daerah di Danau Toba, atau bisa dipesan kepada keluarga atau famili saat berkunjung ke tempat-tempat wisata di sekitaran Danau Toba.
Yang membuat dua Kuliner Indonesia ini sangat begitu menyita perhatian pastinya adanya bumbu Andaliman, bumbu khas Batak Toba yang rasanya sudah mendunia. Ini yang membuat menu spesial semakin spesial.
Semoga dengan terbitnya tulisan Kuliner Indonesia yang sudah ada sejak turun temurun, bernama Manuk Na Pinadar dan Nasi Pollong atau Pelleng, semakin membuat masakan Kuliner Indonesia ini semakin mendunia dan dicintai oleh seluruh masyarakat tanah air, seperti kita mencintai Danau Toba. Horas!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar