Minggu, 14 September 2014

ADA RINDU DATANG

Kemarin, kau masih bersamaku, bercanda berdua sampai lupa waktu. Kemarin kau masih bersamaku, berjanji setia sampai ahir waktu. Baru kemarin, dua hari yang lalu, masih basah dalam ingatanku, kita pulang dari rekreasi kehujanan basah kuyup tertawa riang kedinginan melaju kencang. Mungkin, belum hilang bekas cubitan kuat, tanda marahmu, saat sepeda motorku ku bawa sangat kencang? Ah… masih belum kering jaket yang kupakaikan padamu buat melindungimu, agar tidak sakit…?!

Tapi, kenapa sekarang kau pergi dengannya?? kenapa tergesa-gesa tanpa isyarat?, kenapa kau tinggalkan aku?, Kenapa tak ada tanda, bahwa kau tak lagi mencintaiku? Kenapa semuanya begitu cepat? Kenapa terlalu kejam padaku. Kenapa Murni?… kenapa….??, Apa salahku padamu…?. Kugerus tanah dengan ranting yang kupegang, satu-satu tanah jatuh dalam kolam, menimbulkan riak di permukaan air yang bening. Kusangkutkan dagu diatas kaki yang ditekukkan, menatap kolam lama, merasakan luka tersayat perih sakit setelah mendengar berita itu.
Ya…. tadi siang berita itu kudapat dari teman, katanya kau pergi ke tempat pemandian dengan si Hasan anak kelas 3 IPA. Tapi temanku juga bilang agar aku jangan emosi, cukup dengan rapi balas dendam..!. Dia juga yang menawarkan cara balas dendamnya. Dia suruh aku pergi dengan Si Tina anak kelas 10 yang cantik itu, katanya kebetulan, karena si Tina selalu menanyakan-ku,.” Besok kau ajak dia ke tempat pemandian, kalau bisa kau pulang lewat rumah Murni.!” ujarnya berapi-api.
Aku tak setuju dengan penawaran temanku, balas dendam bukan penyelesaian. Aku ingat ajaran abangku, ’Jika kau disakiti seseorang, kemudian kau balas menyakitinya, apalah bedanya kau dengannya..!?, sama-sama orang yang suka menyakiti!’. Ya… aku tak mau balas dendam, biarlah kujadikan sekedar kenangan, bahwa kami pernah bersama lama, tak terlupakan. Kan kusimpan kenangan itu di ruang hati, kusimpan rapi, ku kunci rapat, mungkin, suatu saat kelak kenangan itu dapat menghiburku.
***
Kemarin, dua minggu setelah kepergian-mu, aku berjalan terlunta-lunta hampa hati membawa perih sakit dibadan. Kuhabiskan malam sendirian menyusuri malam, bercanda dengan lampu kota warna-warni, bercerita dengan bintang, mengadu dengan bulan, berbisik dengan angin terbang rendah dipipi-ku. Ya… sudah dua minggu ini aku tak bertemu dengannya, tak mau kutanyakan, tak perlu lagi. Jika rindu datang, cepat kusuruh pergi jauh, jangan datang lagi. Tapi rindu kembali datang berulang membawa sejuta kenangan menawarkan cinta.
Tanpa sengaja kami bertemu, bicara ringan, tidak kutanyakan tentang perselingkuhan, tak ada pertanyaan kenapa tak datang kerumahnya?, tak ada penawaran jalan bersama dariku!?, sunyi, sepi,tak ada kata perpisahan, tak ada surat putus?. Semua mengalir sejalan waktu yang menyelesaikan. Kebersamaan mereka berboncengan sepulang sekolah, sudah cukup sebagai pernyataan putus. Mereka selalu ke kantin bersama mengisyaratkan mereka telah pacaran, tak lagi pulang bersamaku seolah memberi kabar kepada seluruh teman bahwa cinta kami telah kuncup layu jatuh terhempas.
***
Dihadapan teman aku tampil menawan seperti dulu, kusimpan luka itu rapi di sudut hati sebelah kiri, walau kadang menusuk tajam sakit, tak kupedulikan. Perlahan kutaburi obat, kubalut kuat, kurawat agar cepat sembuh. Patah dahan ini kucoba dirikan, kusangga dengan tiga kayu yang kuikat kuat, agar dahan ini kembali bercabang rindang. Kata abangku ‘Obat patah hati adalah pacar baru, siapa yang tak mau pacaran segera, maka luka hatinya semakin panjang, Ibarat orang sakit deman tak selera makan, maka demamnya sulit disembuhkan..!’.
Aku sulit memahami kalimat abangku, hampir tak percaya, namun kucoba melaksanakannya. Ya…. kan kucari obat mujarab, walau pahit harus kutelan, agar cepat sembuh. Besok akan ku dekati Tina yang selalu kirim salam padaku, walau hampa hati tak ada cinta di dada, perlahan kupaksakan. Akan kuhiasi hari yang melelahkan ini bersama Tina tanpa rasa, mungkin dapat mengusir rindu, melupakan kenangan, kembali menemukan cinta yang hilang, terbang. Kan ku uji kebenaran ajaran abang, tentang obat patah hati adalah pacar baru…!?
***
Malam minggu yang panjng…. paling enak buat pacaran. Bait lagu itu tak cocok buatku. Kulihat langit gelap segelap hatiku, kutatap bulan redup-seredup hatiku, kurasakan angin lembab-selembab jiwaku. Dengan berat hati kupenuhi permintaan Tina agar datang kerumahnya ngapel malam minggu. Tak pakai dandan, tak ada minyak wangi, sepedamotor-pun tak ku cuci menuju rumah Tina berbincang biasa, tanpa rasa, mengalir sekedar menghabiskan malam. Sesekali bayangan Murni datang membawa rindu, tapi perhatian Tina yang hangat segera mengusir pergi.
Dari arah pembicaraan Tina ada penawaran pergi malam ini menikmati cinta yang ditawarkan, tapi aku mengjhindar dengan alasan mungkin akan turun hujan. Dia tak tau, aku tak mencintainya, dia tak paham bahwa aku datang kerumahnya sekedar terapi penyembuhan. Sepertinya dia berupaya dengan berbagai cara buat mendapatkan cintaku?, dia buatkan makanan sepesial buatku, dia tambahkan minuman di gelas, dia minta aku mengenakan jaket agar tak kena angin malam yang jahat. Dia lepas aku pulang dengan kalimat ‘hati-hati di jalan’.
Kemarin Tina datang kerumahku dengan alasan minta ajarin PR matematika. Tanpa hasrat aku mengajarinya, berharap dia segera pulang, karena tak ada kebahagiaan, tak ada rindu yanng datang, tak ada cinta bersemi dihatiku, dijiwaku. Tapi dia tak mengerti, tak paham, justru sebaliknya dia datang membawa sampul buku yang banyak, saat aku mengerjakan soal, dia sampulkan tiga buku catatan milikku, dituliskan namaku, rapi indah. Dia tinggalkan salah satu stipo miliknya buatku, katanya buat upah ngerjakan soal.
Kadang aku tersenyum melihat perhatian yang diberikan Tina, bersahaja tak berhenti. Sudah banyak perhatian bertaburan seakan berlebihan, tapi tak kupedulikan. Semua perhatian yang kau berikan belum bisa mendatangkan cinta, paling sekedar penawar luka. Semua perhatian dari Tina tak ada yang kukenang, wajah cantiknya dimataku biasa saja, senyum manisnya tak menarik, semua tentang Tina yang di bilang teman sangat menjanjikan, tapi dimataku sedikit membosankan. Tina gadis yang jadi rebutan di sekolahku?, tapi bagiku justru sekedar mengisi waktu.
Maafkan aku Tina.. bukan karena aku angkuh, bukan karena wajahku agak lumayan, bukan karena aku tak punya perasaan..!. Tapi aku belum dapat mencintaimu. Kalaupun aku datang malam minggu hanya sekedar pemulihan dari luka yang dalam, sekedar ingin membuktikan ajaran abangku tentang khasiat pacar baru?, ingin kubuktikan? namun kurasa tak relevan? orang sakit demam tak selera makan, malah dipaksa makan? tak ada gunanya ?sia-sia rasanya bersama Tina?, tak ada perobahan sakit yang di derita? tak ada kesembuhan?.
***
Sebulan kemudian
Sore itu cahaya matahari terhalang rumpun bambu, sesekali cahaya itu lepas dari balik daun bambu berlompatan bergantian jatuh di ujung kakiku. Angin sepoi menjatuhkan satu daun bambu ke sungai. Kutatap air sungai berkilatan di terpa cahaya matahari, dipermukaan air muncul bayangan Tina berbanjar bergantian tersenyum indah. Teramat besar perhatian yang di berikan? Terngiang ungkapan ‘hati-hati ‘ saat akan pulang?, terbayang pulpen berukir namaku yang di berikan?, tak terlupakan bukuku yang di sampul rapi? Masih terasa picitan tangannya di kaki-ku yang keseleo sepulang main bola futsal?
Ah… semua kenangan itu datang tergesa seketika …!. Ada rindu tiba-tiba datang menyerang? Ada kecemasan menusuk tajam? Ada rasa takut kehilangan?. Semua rasa itu berkejaran datang setelah mendengar kabar bahwa Tina di bawa ke Kota Penang untuk berobat? Sakit apakah dia? bagaimana keadaannya sekarang? apakah dia akan sembuh? apakah penyakitnya membahayakan?. Kembali kugeruskan tanah di pinggir sungai dengan ranting bambu. Kurapatkan kaki yang di tekukan, ku ikat dengan tangan kiri, mulai kurasakan kebenaran cerita abang.
Sudah dua minggu berlalu, tapi Tina belum sekolah juga? Biasanya, ketika jam istirhat sekolah,dia pasti datang membawakan makanan ringan atau membawa cerita dari berita koran ayahnya yang di bacanya. Ketika pulang sekolah pasti disapanya aku dekat pintu gerbang? Tapi kini dia tak ada lagi…? Ada rasa kesepian, ada rasa kehilangan, ada rindu datang. Ada cinta tumbuh dihati, akan kusiram kurawat agar bercabang kembang. Ada do’a di panjatkan berharap Tina cepat sembuh. Karena ada cinta yang akan di ungkapkan agar terangkai indah.
***
Malam minggu yang cerah secerah hatiku, bulan bersinar terang seterang hatiku, bintang bertaburan gemerlapan indah, seindah hatiku. Dengan sepedamotor yang baru ku cuci, aku melaju pelan menerpa angin malam menuju rumah Tina. Hari sabtu jam istirahat tadi siang, melaui teman sebangkunya kudapat kabar Tina sudah pulang dari Penang, mungkin senin akan masuk sekolah. Kulajukan sepedamotor berharap segera tiba, tak sabar rasanya ingin bertemu, menjemput rindu yang datang tergesa.
Tak lupa kubelikan seikat kembang, kan kupersembahkan padamu sebagai tanda cinta. Sesampai dirumahmu kulihat kau terkesima melihat aku datang, kulihat tatapan mata penuh rindu dengan senyum hangat di persembahkan buatku. Kubawakan sebuah pulpen telah ter-ukir namamu, kau terima penuh haru atas cinta yang di tunggu kini telah datang sepenuh hati segenap jiwa agar bersama selamanya. Ketika pamit pulang di halaman depan, disamping pohon pinang merah, disaksikan bulan.

“Dua minggu kamu tak sekolah aku kesepian”
“Tak melihatmu, aku kehilangan”
“Jangan sakit lagi…ya…..?!”
“Senin pagi ku jemput…”

Ujarku pelan, kemudian kau balas lembut.

“Terimakasih, pulpen-nya”
“Kutunggu senin pagi”
“Cepat datang…ya….?!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar