Minggu, 14 September 2014

ADA DUSTA DIANTARA KITA

Siang itu angin segar terbang indah diantara pohon sawit taman belakang kampus, dari balik ujung daun cahaya matahari bersinar tak pernah berhenti sesekali tertutup awan kelabu, kuteguk minuman yang tinggal setengah gelas, sesekali kuangkat tangan sambil tersenyum membalas sapa teman yang lewat tanpa semangat karena ada sesak menekan kuat penat dikepalaku, kalimat temanku Si Herman barusan menghinaku, mempermalukan-ku, mencabik harga diriku ”Aku malu punya teman yang dipermainkan wanita…!!. Ujarnya sebelum berlalu.

Kutuang habis minuman botol ke dalam gelas, kusibakkan rambut gondrongku yang menutupi mata, kembali bayangan kekasihku Hijra dibonceng si Toni datang menusuk hatiku tajam menikam dalam. Toni adik kelasku satu fakultas, tetapi kami beda jurusan, tampangnya oke juga, tubuhnya lebih pendek sedikit denganku. Aku sekedar mengenalnya dari teman satu kostku Herman setahun yang lalu, apakah Toni ingin merebut Hijra dariku? apakah kutanyakan langsung kepadanya?, ah…sebaiknya kutanyakan saja pada Hijra tentang hubungan mereka.
Kemarin, kejadian seminggu yang lalu kutanyakan pada Hijra, dia bilang terlambat kuliah, kebetulan Toni lewat menawarkan tumpangan, kemudian dia memelas mohon maaf atas kelancangan, janjinya tak akan mengulangi lagi, aku memakluminya dan dapat memaafkannya. Tapi, pagi tadi datang lagi kabar yang tak sedap dari Si Herman, melihat jelas Hijra berboncengan lagi dengan Toni. ”Kau pernah melihatnya satu kali, kemarin aku lihat sendiri…!, belum lagi yang tidak kita lihat..?!, kalimat Herman barusan masih terngiang ditelingaku sepanjang jalan pulang.
Malam terasa dingin sesekali cahaya kilat menyambar masuk melalui jeruji jendela kamarku diiringi suara petir berlompatan. Perlahan angin dingin merayap merambat membawa bayangan Hijra saat bercakap dengan Toni di parkir seminggu yang lalu, sempat kulihat sorot mata Toni yang mesra rindu ketika menerima buku yang dipegangkan Hijra saat berboncengan, namun bayangan kata maaf dari Hijra kembali berulang berkejaran dengan kalimat Herman tadi siang, potongan gambar-gambar itu seolah bergiliran lewat di langit-langit kamarku.
“Sudahlah Jaya…! putuskan sajalah Hijramu yang cantik itu…..buat apa punya pacar cantik tapi dibudak wanita..!!”, kalimat Herman tadi siang kembali datang menerjang menerkam marah kasarku. Tapi segera tergesa wajah cantik Hijrah datang menghalangi, rambut hitam sebahu, hidung mancungnya, mata indahnya, senyumnya dengan mulut di majukan bercanda marah, wajah cantik itu melunakkan amarah menyapu dada agar bersabar, sifat manjanya tak dapat kulupakan, bergayut di bahu kiri, menyembunyikan kepala di dadaku. Ya…masa cinta indah bersemi mewangi seakan memintaku memaafkan semua kesilapannya?!.
“Itu yang terlihat oleh kita..!? bagaimana yang tanpa setahu kita, berapa kali? kemana? dimana? ha.ha.ha.ha.ha,?. Tawa Herman sebelum pamit mengajar privat les barusan merendahkan-ku, menghinaku, mengejekku..! membuat-ku sulit belajar malam ini, bergantian wajah Herman, Toni, Hijra terselip sekerat terpampang besar terdapat disetiap lembar diktat kuliah yang kubuka. Malam ini aku tak bisa belajar, kusimpan semua buku diktat, kurapikan malas, mengajak mata beranjak buat tidur mengusir sesak benci marah dan dendam.
***
Siang ini angin agak dingin terbang menerpa menjatuhkan daun akasia dekat kakiku, kulihat awan di langit hitam berat mengisyaratkan akan turunnya hujan, melalaui ponsel kujanjikan akan bertemu dengan Hijra di kantin taman belakagng kampus, rencananya akan kutanyakan tentang berboncengan lagi dengan si Toni yang dilihat oleh si Herman kemarin? Aku mengaduk minuman yang baru datang. Sesuai jam yang ditentukan kulihat Hijra datang sambil bercakap denga teman wanitanya, berpisah dan berjalan ke arahku, wajah cantik itu, tubuh tinggi itu, badan sedang itu, rambut itu, senyum itu, ada rindu mengusik hati menggoda jiwa perlahan mendebarkan dada ketika melihatnya berjalan, semuanya mengagumkan.
“Tepat waktu kan…?” ujarnya ringan mengambil duduk di depanku. Seperti biasa setiap kami bertemu selalu kutawarkan makan. Kemudian kami bicara ringan mengalir indah, sedikitpun tak ada isyarat takut atau salah dari sorot mata itu. Tipis ringan tanpa beban dia katakan bahwa hanya sekedar kebetulan terlambat akan ke kampus, kebetulan Toni lewat, demikian penjelasan dari Hijra. Ya..hanya sekedar kebetulan, tetapi kenapa si Herman mempolitisir keadaan sampai sangat menyesakkan?.
Sampai di kost kuceritakan masalah ‘kebetulan’ dengan Herman, tapi dia malah mengejek, menekan, menawarkan perpisahan, ”Alahhh….Ton….kalau ‘kebetulan’ itu hanya sekali…!, bukan berulang kali…!, dan kalau emang ‘kebetulan’ cowok tempat dia numpang mungkin bertukar… tidak pada cowok yang sama..!? Dan kalau kebetulan, kenapa pakai pegang pinggang segala saat berboncengan..?!. ujar Herman menimpali, menghujat, meragukan. Aku diam heran bingung benci menjawab pamit kepada Herman ringan. Herman meningalkan aku sendirian, pergi mengajar privat les.
Mendengar kalimat ‘pegang pinggang’ yang diucapakan Herman membuat nafasku sesak, darah mengalir kencang, jantung memompakan darah berulang sangat cepat, akibatnya badanku gemetar wajah memerah dengan mata marah namun cepat ku kuasai emosi yang memuncak kembali bersabar perlahan pelan irama jantung kembali normal beranjak menuju warung nasi di depan buat makan. Bayangan kalimat ‘pegang pinggang ‘ dari Herman ikut di pundakku memanjat kepalaku lompat di piring makan, semua makanan tak sedap untuk di santap.
Keesokan harinya kutanyakan masalah ‘pegang pingang ‘ dengan kekasihku Hijra, tapi dia mengelak ringan “sekedar berpegangan menghindari jatuh” ujarnya tanpa beban. Kulihat senyum dikulum menghiasi wajah cantiknya mengisaratkan rasa bangga akan kecemburuanku yang berlebihan. Aku mulai meyadari kecemburuan yang diluar batas, terlalu jauh aku mempercayai cerita Herman, kuajak hatiku berdamai dari hujatan marah yang berlebihan, kembali kusegarkan irama cinta yang sempat berjalan pelan, kunikmati wajah cantik itu dalam-dalam.
***
Malam ini aku sengaja tidur di rumah kost kawan guna menghindari debat kusir dengan Herman, ada sedikit ketenanagn hati menjalani percikan panas api cinta yang membara, ada rasa asam pahit manis kunikmati dalam kesendirian, ada kematangan menghadapi cinta yang membara tanpa campur tangan Herman. Dari kost teman aku ngapel ke rumah Hijra menikmati rindu yang tertunda melanjutkan mimpi merangkai hati bersama. Hilang semua sesak penat marah dan benci api cemburu membakar diri, berganti dengan janji kesetiaan sehidup semati.
Malam itu aku kembali ke kost setelah 2 hari yang mengasikkan tanpa galau yang ditawarkan Herman, sesampai dirumah aku langsung disambut dengan berita yang sangat mengejutkan dari Herman. Kemarin dia melihat lagi Hijra datang bersama Toni menghadiri sukuran kakak kelas yang lulus meja hijau, ”ada 60 mata yang menyaksikan..?!” ujar Herman meyakinkan. Mendengar berita Herman darah mudaku panas membara, api cemburu tak dapat kutahan, saat itu juga aku berencana ke kost Toni, akan kuhajar Toni sampai nyonyor tak peduli resiko masalah yang akan datang, kulepasakan marah yang tersimpan lama siap dimuntahkan.
Tapi Herman melarang dengan diplomasi yang tajam ”Jangan salahkan Toni, tapi kau tanyakan pada dirimu sendiri..? kenapa.. mengapa ini semua terjadi..? ujarnya datar seolah turut merasakan, kemudian dia lanjutkan dengan anjuran ringan masuk akal, ilmiah” sudahlah Jaya…. sudahi sajalah hubungan kalian teramat menyesakkan…percuma kau tampan…!?, bunga tak sekuntum… kumbang tak se-ekor… masih banyak gadis lain yang antri mengharapkan cintamu…!?”. Aku diam, usai menasihatiku, dia pamit makan ke warung depan.
Malam itu juga kutulis surat perpisahan ungkapan perasaan yang sakit melelahkan, percuma semua ini dilanjutkan, noda yang kau torehkan tak mampu kubersihkan, kesetiaan yang pernah kita janjikan kau hancurkan dengan penghianatan, rindu di hatiku telah hilang, kenangan bersamamu kukubur dalam-dalam. Tak ada lagi pertemuan, anggap saja sekedar pengalaman yang tak begitu perlu diingat. Kutulis surat itu rapi indah di atas kertas sederhana, kutup dengan kalimat anjuran, ’silakan lanjutkan pengembaraan–mu dengan berbagai kumbang…!’. malam itu juga surat bersampul biru tua buat Hijra kutitipkan melalui teman.
***
Kunikmati angin dingin dalam perjalanan pulang dari kampus sore itu, kulihat langit berselimut awan gelap pertanda akan turun hujan. Bayangan Hijra melintas pelan terbang rendah dibawa angin, segar aroma shampo dari rambut indahnya datang singgah tergesa, kemudian angin seolah mengusik badanku mengingatkan dekap erat Hijra saat sepedamotor berhenti pada lampu merah, terkejut sakit mendengar suara klakson mobil belakang karena lampu telah hijau, pekikan suara klakson itu seolah cubitan mesra tangan Hijra saat marah akan sepeda motor yang teramat kencang.
Namun semua kenangan itu cepat cekatan kucampakkan terhempas berserakan di aspal jalan, tak kuijinkan bayangan itu turut serta bersama. Namun kadang ada pilu iba hati melihat bayangan Hijra seolah menjerit menangis memohon ikut bersama kembali merajut mimpi melanjutkan cinta yang tertunda…?!. Tapi….. tak kuhardik… tanpa kutolehkan, kulajukan sepeda motor lari kencang menghindari kejaran bayangan itu….!, kulihat bayangan itu kelelahan tersungkur, kubiarkan bayangan itu digilas ban mobil hancur lumat hilang bersama aspal jalan. Tidak…biarkan aku menikmati kesendirian hampa hati berat beban dibawa ringan, ya…biar kunikmati sepi ini sendiri.
***
Usai kenaikan tingkat, temanku Herman pindah kost, dengan berbagai alasan berpindah kost bukan sesuatu yang aneh buat anak kost, biasanya lebih dari satu tempat dalam masa empat atau lima tahun kuliah. Dengan alasan satu organisasi pencinta alam Herman kost bersama Toni, belakangan kulihat Herman selalu bersama Toni berboncengan sepedamotor, persahabatan ku dengan Toni hangat diperkenalkan Herman. Seiring waktu berlalu bayangan Hijra semakin jauh tertinggal dibelakang, sangat jarang senyum manis itu mengusikku mengejarku.
***
Dua bulan kemudian.
Malam itu kerlap kerlip lampu kota saling menyapa bertengkar menunjukkan kehebatan, lampu jalan yang besar seolah bangga dengan kakinya yang gagah panjang berdiri di pinggir jalan, namun lampu kecil tak mau kalah memperlihatkan sinarnya yang terang dari dalam toko, dari warung bakso, di antara gerobak sate. Kuparkir sepedamotor depan toko alat tulis kantor buat membeli HVS, aku mulai mengarap skripsi yang judulnya telah di Acc oleh dosen. Saat berjalan menuju toko, tiba-tiba mataku menangkap pemandangan yang mengejutkan heran menyesakkan, Kulihat Hijra dan Herman bergandengan tangan keluar dari toko menuju sepedamotor Herman.
Ragu akan cahaya lampu malam yang bermain bercipratan maka kupastikan mengulang pemandangan yang kulihat dari balik toko, tak salah lagi…. kulihat Hijra memegang pinggang Herman mesra sebelum sepedamotor mereka meluncur ke jalan. Jantungkan seakan berhenti tergesa, darah berkejaran mengalir kencang tersekat benci dendam karena penghianatan yang kejam. Herman, sahabat karibku yang pernah dua tahun satu tempat tidur seguling sebantal, sepiring berdua telah menodai persahabatan kami.
Dari kabar yang kudengar tenyata Toni adalah adik sepupu Herman yang sengaja dikirim buat menghancurkan hubungan kami. Sandiwara telah dirancangnya. Herman dengan matangnya mengalir indah dibalut berpura menasihati agar aku memutuskan kasih dengan Hijra. Ah… tak ada sahabat yang abadi, kecuali kepentingan pribadi, ternyata ada dusta diantara kita…… sahabat karibku telah merebut Hijra dari sisiku,.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar