Tampilkan postingan dengan label Pangan dari Hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pangan dari Hutan. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2020

Ironi Hutan Indonesia dengan Segala Kekayaan dan Manfaatnya, Masihkah Jadi Paru-Paru Dunia?


Kemenyan, Konsumsi dari Hutan yan sangat perlu di lestarikan. Kemenyan, Buah dari Hutan yang bernilai Emas dan Sangat Bermanfaat bagi dunia kesehatan, Sangat Diminati oleh Negara Luar. Wajib Kita Lestarikan Hutan Kemenyan di Sumatera Utara. Sumber Gambar: Kiriman dari Bang Iwan Sihotang
Hutan Indonesia memiliki jutaan manfaat, tidak hanya untuk Republik berpenduduk kurang lebih 264 juta jiwa ini, hutan Indonesia juga menjadi paru-paru dunia yang harus dilestarikan keberadaannya sehingga keberagaman dan sejuta manfaatnya dapat dinikmati hingga anak cucu kita.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya akan sumber daya alamnya. Itu tidak terbantahkan, bahkan hutan Indonesia sangat penting peranannya bagi kita semua. Apalagi hutan hujan tropis, merupakan hutan yang sangat vital peranannya untuk kehidupan umat manusia, hewan dan juga bagi kelestarian tumbuhan.
Lantas apakah manfaat hutan buat kita semua? Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada diri kita pribadi lepas pribadi, maka jawabannya sangat kemungkinan beragam. Bagi saya sendiri, hutan di Indonesia memiliki berjuta-juta manfaat, pertama tentunya sebagai sumber pangan.
Ya, tidak dapat dipungkiri fungsi hutan masih sangat vital dalam kelanjutan hidup bagi sebahagian penduduk di Indonesia. Seperti di daerah saya, Sumatera Utara, masih banyak masyarakat menggantungkan hidupnya dari kekayaan hasil hutan dan keberagaman tumbuhan yang hidup dan berkembang di hutan tersebut.
Salah satu contohnya, adalah para petani hamijon (kemenyan) yang tinggal di Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Samosir, Dairi dan Pakpak Barat, hingga kini masih menggantungkan hidupnya dari memanen getah kemenyan yang berbau khas itu.
Dari cerita oppung saya, hingga yang saya lihat beberapa kali ketika berkunjung atau jalan-jalan ke tempat pamili di Pakpak Barat misalnya, marhamijjon – mengambil getah kemenyan di hutan – merupakan kegiatan yang sudah dilakukan secara turun-temurun, bahkan sebelum Negara Republik Indonesia berdiri.
Bahkan, konon kemenyan yang dipersembahkan oleh orang-orang Majus dari timur dalam sejarah yang sering kita baca dalam Alkitab maupun Kitab Suci, berasal dari Tanah Batak. Apakah itu pertanda bahwa memang Kemenyan hanya hidup dan berkembang di Hutan Hujan Tropis yang ada di Sumatara Utara?
Kemenyan merupakan salah satu tanaman hutan endemik yang hanya tumbuh di Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Beberapa kelompok masyarakat lokal asli di Provinsi Sumatera Utara yang didominasi suku Batak di Kabupaten Pakpak Barat, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara dan Dairi, masih mempertahankan batang-batang kemenyannya meski generasi mudanya kini sudah banyak yang tak lagi berminat meneruskan warisan ini. 
Sesudah mencapai Hutan Kemenyan, Tidak Diperbolehkan langsung mengambil getah dari Pohon Kemenyan. Harus melakukan ritual terlebih dahulu dan diisi dengan hati dan pikiran yang tulus agar Menghasilkan Getah yang banyak dan bernilai jual tinggi. Sumber Gambar: Diambil dari Koleksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Lantas apa manfaat kemenyan sehingga keberadaannya sangat vital dan harus dilestarikan? Kemenyan bersanding dengan emas dan mur. Dahulu, harga kemenyan bisa disamakan dengan harga emas.
Permintaan akan getah kayu yang harum ini berdatangan dari berbagai belahan dunia. Manfaatnya? Hasil penelitian menyatakan bahwa ada kandungan dalam kemenyan yang mampu menghentikan penyebaran kanker. Pada abad ke – 10, Ibnu Siha, ahli pengobatan Arab, merekomendasikan kemenyan sebagai obat tumor, bisul, muntah, disentri, dan demam.
Dalam pengobatan tradisional Cina, kemenyan digunakan mengobati masalah kulit dan pencernaan. Sedangkan di India, kemenyan digunakan mengobati arthritis, sejenis penyakit pembengkakan dan kekakuan pada sendi sehingga menyebabkan gerakan tubuh menjadi sulit dan menyakitkan.
Untuk menghasilkan kemenyan yang bagus, diperlukan doa-doa, niat dan hati yang tulus dan saat memanen dibutuhkan waktu tiga bulan lamanya. Tiba saat panen kemenyan, maka getah pertama adalah getah terbaik sehingga dipatok dengan harga yang tinggi, sangat berbeda dengan getah ke-2 yang disebut dengan Jurur, lalu getah ke-3 hang yang disebut dengan Tahir, dan dipatok dengan harga jauh lebih murah.
Pohon Kemenyan atau Haminjon hanya tumbuh di ketinggian 900 hingga 1200 meter di atas permukaan laut dengan suhu 28 hingga 30 derajat celcius. Kegiatan memanen getah haminjon ini tidak merusak hutan, tidak ada perambahan maupun alih fungsi lahan.
Saat ini, ada seluas 631.355 hektar hutan hamijon berada di kawasan hutan Sumatera Utara, tersebar di kawasan hutan produksi maupun hutan lindung berdasarkan SK MenLHK Nomor 579 Tahun 2015 tentang kawasan hutan di Sumut. Areal tombak hamijon sekarang masih memberikan manfaat dan diusulkan kepada Presiden agar dikeluarkan izinnya adalah Desa Siempatrube 4, Kecamatan Siempatrube, Kabupaten Pakpak Bharat seluas 1.900 hektar yang masuk kawasan hutan produksi.
Lalu Desa Banuaji 4, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara dengan luas areal 1.695 hektar di kawasan hutan lindung. Kemudian Desa Karing, Kecamatan Brampu, Kabupaten Dairi memiliki 384 hektar di kawasan hutan produksi dan Desa Lumbandolok (Sigompulon), Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara, dengan luas areal 1.700 hektar di kawasan hutan lindung.
Hutan kemenyan atau dalam Bahasa Batak, Tombak Haminjon merupakan rumah kedua bagi para petani kemenyan, karena bisa sampai 4 dan 5 hari dalam seminggu mereka di dalam hutan untuk memanen kemenyan. Dengan membawa bekal yang disiapkan oleh istri dan anak, beserta doa restu mereka, para petani kemenyan berangkat ke hutan yang merupakan hak ulayat dalam Adat Toba yang diturunkan turun temurun.
Namun, kini hasil kemenyan sudah menurun drastis, disebabkan oleh pengrusakan dan penebangan pohon-pohon kemenyan yang sudah tumbuh dan memberikan hasil dari generasi ke generasi. Ekspansi oleh perusahaan-perusahaan tidak bertangung jawab menjadikan hutan kemenyan menjadi hutan industri mengakibatkan tidak hanya kerusakan, tetapi juga konflik berkepanjangan antara petani kemenyan dengan perusahaan yang melakukan pembalakan liar.
Sudah menjadi tugas kita untuk kembali melestarikan hutan-hutan kemenyan dan tanaman obat lainnya yang biasa ditemukan di hutan-hutan Sumatera Utara sebagai ramuan obat herbal.
Petani kemenyan harus hidup sejahtera dan hutan-hutan kemenyan dikembalikan fungsinya untuk menghasilkan kemenyan yang menjadi konsumsi dari hutan sebagai obat yang mampu menyembuhkan banyak penyakit serta memaksimalkan penelitian kemenyan bisa sebagai obat yang dapat diolah dan memberikan manfaat bagi kita semua.