Tampilkan postingan dengan label @informatika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @informatika. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Agustus 2019

Mapel Informatika, Bukti Semangat Memerdekakan dan Mempersatukan Generasi Melawan Hoak Demi Suksesnya Pembangunan Nasional

Belajar Informatika, Siswa akan diajarkan berpikit tingkat tinggi dan komputasional dalam menalar sebuah informasi atau berita untuk menangkal hoaks. sumber gambar: dokpri

Jumlah penduduk Indonesia tahun 2019 diprediksi berkisar 267 juta jiwa, sementara pengguna internet berjumlah 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen dari total jumlah penduduk Indonesia sudah terhubung dengan internet. Artinya, masyarakat Indonesia masih menjadi lumbung pengguna pengguna media sosial terbanyak. Apalagi berdasarkan survei We Are Social di tahun 2017, 18 persen pengguna media sosial berusia 13 sampai 17 tahun, yang merupakan usia pelajar.
Faktanya, dari sumber berita Kompas.com, anak remaja sangat rentan menjadi pelaku penyebaran hoaks atau berita bohong di jagat maya. Apalagi masa-masa menjelang Pilpres dan pasca Pilpres kemarin, tensi tinggi mengakibatkan terjadinya perang berita hoaks di media sosial. Dan beberapa pelaku penyebaran hoaks yang berhasil ditangkap polisi ternyata masih berstatus pelajar. Sungguh sangat memprihatinkan.
Disinyalir remaja mudah percaya pada hoaks karena anak muda memang cenderung emosional. Disamping itu, kenyataan minat baca orang Indonesia yang rendah menjadi faktor penyebab gampangnya sebuah berita yang menurut mereka sensasional langsung disebarkan tanpa dibaca dengan detail apa isi beritanya.
Kenyataan inilah menjadi pendorong agar pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukkan kembali mata pelajaran TIK atau Informatika ke dalam Kurikulum 2013. Kebutuhan untuk menghasilkan “SDM Unggul Indonesia Maju”, seperti tema Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-74 harus direalisasikan dengan sumber daya manusia yang tidak terjebak oleh berita-berita hoaks dan menjadi penyebar kebohongan tersebut.
Informatika, merupakan mata pelajaran pengganti TIK dan diberikan kepada siswa dari tingkat SMP hingga SMA dan sekarang baru dalam tahap uji coba di beberapa sekolah, karena belum seluruh wilayah nusantara ini telah tersambung dengan internet. Jadi sembari menunggu terwujudnya pemerataan infrastruktur, maka mata pelajaran Informatika baru tahap implementasi.
Lantas mengapa mapel Informatika sangat penting dan relevan dalam mewujudkan “SDM Unggul Indonesia Maju”? Apa keunggulan mapel Informatika dalam memberantas hoaks menuju suksesnya pembangunan nasional dengan modal persatuan dan kesatuan bangsa?
Jawbannya jelas sangat bisa, karena dengan belajar informatika sejak SMP, generasi muda kita dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan teknologi yang cepat dengan belajar STEM-C (Science, Technology Engineering Mathematics and Computational Thingking). Artinya, siswa sejak dini diajarkan untuk berpikir kritis, dan mulai berpikir terkomputerisasi yang terstruktur dan algiritmik.
Berpikir tingkat tinggi, mencerna sebuah informasi dengan pemikiran yang luas, belajar untuk terbiasa membaca secara terstruktur, mencerna sebuah informasi dengan menggunakan hati dan logika, meredam emosi dan lebih menggunakan pemikiran dalam menyelesaikan sebuah persoalan adalah hal penting yang sangat diharapkan setelah belajar Informatika ini.
“Selama ini dari segi keilmuan TIK belum terdistribusi dan tergambarkan secara jelas kepada siswa. Maka dari itu kami sedang mengkaji khusus dari keilmuannya agar lebih baik," begitulah penjelasan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud Awaluddin Tjalla saat dihubungi Republika.co.id, (5/8) menjelaskan perihal Informatika sebagai pelajaran baru yang bermafaat untuk menangkal berita hoaks.
Peranan Informatika Menangkal Hoaks
Hoaks merupakan ancaman terbesar dari keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demokrasi Pancasila yang menjamin kebebasan bagi seluruh warga negaranya dalam berpendapat menjadi ancaman terbesar, karena bisa disalah artikan menjadi bebas memberikan informasi yang bohong sekalipun. Dan itu terbukti dengan menyebarnya konten maupun informasi yang didesain hampir 100 persen benar, padahal itu adalah hoaks alias berita bohong.
Penyebaran berita hoaks melalui media sosial menjadi masalah terbesar di negeri ini. Sungguh banyak contoh berita hoaks yang disebarkan menjadi awal kebencian yang berujung pada kerusuhan. Oleh karena itu sudah menjadi peran kita untuk memberantas hoaks dengan cara kita masing-masing.
Saya sebagai guru mata pelajaran Informatika, tetap optimis bahwa generasi muda sekarang tidak akan gampang menyebarkan berita hoaks, karena generasi muda sudah dipersiapkan berpikir komputasional. Artinya, berpikir kreatif dan kritis dalam menyelesaikan persoalan dengan konsep algoritma.
Saring berita atau informasi atau gambar sebelum sharing, bijaklah menggunakan media sosial merupakan ajakan baik demi memberantas berita hoaks atau bohong.
Medan, 22 Agustus 2019